Cara Mengelola Perpustakaan Sekolah yang Baik

Cara Mengelola Perpustakaan Sekolah yang Baik

Solusi Isi Ulang Pulsa Online
Kuota internet anda sudah mau habis? Isi ulang saja di situspulsa.com dijamin harga lebih murah dan proses lebih mudah
www.situspulsa.com
Ads by guru-up.date info
Mau Jadi Master Dealer Pulsa?
Harga paling murah, Produk lengkap, Pendaftaran Gratis!!
situspulsa.com
Ads by guru-up.date info

Loading...
CARA MENGELOLA PERPUSTAKAAN SEKOLAH YANG BAIK
Perpustakaan Sekolah merupakan perpustakaan yang berada pada lembaga pendidikan sekolah, yang merupakan bagian integral dari sekolah yang bersangkutan dan merupakan sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan (Perpusnas, 2001). 

Perpustakaan sekolah pada saat ini bukan hanya merupakan sarana yang menyediakan bacaan guna menambah pengetahuan dan wawasan bagi siswa, tapi juga merupakan bagian yang integral dalam proses pembelajaran. Dengan demikian penyelenggaraan perpustakaan sekolah harus sejalan dengan visi dan misi sekolah dengan mengadakan bahan bacaan bermutu yang sesuai kurikulum, menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan bidang studi, dan kegiatan penunjang lainnya.

Perpustakaan sekolah sebagai perangkat pendidikan di sekolah merupakan bagian integral dalam sistem kurikulum sekolah berfungsi sebagai :
1. Pusat kegiatan belajar mengajar.
Perpustakaan sekolah menyediaakan koleksi bahan perpustakaan untuk mendukung proses belajar mengajar.
2. Pusat penelitian sederhana.
Perpustakaan sekolah menyediakan koleksi bahan perpustakaan yang bermanfaat untuk melaksanakan penelitian sederhana bagi peserta didik.
3. Pusat membaca guna menambah ilmu pengetahuan dan rekreasi.
Perpustakaan sekolah menyediakan koleksi bahan perpustakaan yang bermanfaat untuk menambah wawasan dan memperdalam ilmu pengetahuan serta rekreasi intelektual bagi peserta didik dan tenaga kependidikan.

Pedoman Pengelolaan Perpustakaan Sekolah
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 25 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah, bahwa setiap sekolah/madrasah untuk semua jenis dan jenjang yang mempunyai jumlah tenaga perpustakaan sekolah/madrasah lebih dari satu orang, mempunyai lebih dari enam rombongan belajar (rombel), serta memiliki koleksi minimal 1000 (seribu) judul materi perpustakaan dapat mengangkat kepala perpustakaan sekolah/madrasah.

Download Permendiknas No. 25 Tahun 2008 tentang Standar Tenaga Perpustakaan Sekolah/Madrasah

Selain itu, menurut Pedoman Perpustakaan Sekolah IFLA/UNESCO, bahwa koleksi bahan perpustakaan sekolah yang sesuai hendaknya menyediakan 10 (sepuluh) buku per murid. Sekolah terkecil hendaknya memiliki paling sedikit 2.500 judul materi perpustakaan yang relevan dan mutakhir. Paling sedikit 60 % koleksi perpustakaan terdiri dari buku non fiksi yang berkaitan dengan kurikulum. Sedangkan menurut pasal 23 ayat (2) Undang-Undang No.43 tahun 2007 bahwa perpustakaan sekolah wajib memiliki koleksi buku teks pelajaran yang ditetapkan sebagai buku teks wajib pada satuan pendidikan yang bersangkutan dalam jumlah yang mencukupi untuk melayani semua peserta didik dan pendidik. Oleh karena itu untuk pengembangan perpustakaan, Sekolah/madrasah mengalokasikan dana paling sedikit 5% dari anggaran belanja operasional sekolah/madrasah. Pemilihan bahan pustaka merupakan kegiatan awal dari pembinaan koleksi. Pembinaan koleksi harus direncanakan sebaik-baiknya agar layanan yang diberikan oleh perpustakaan benar-benar dapat memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan.

Download Pedoman Perpustakaan Sekolah IFLA/UNESCO

Pengolahan Koleksi
Cara Mengelola Perpustakaan Sekolah yang Baik
Bahan pustaka yang telah diadakan segera diolah agar dapat dimanfaatkan oleh pengguna. Tujuan pengolahan koleksi adalah membuat sarana temu kembali sehingga memungkinkan pengguna menemukan kembali bahan pustaka melalui titik akses pengarang, judul dan subjek pada sistem katalog berabjad dan melalui kelas pada susunan koleksi di rak.

Adapun alat-alat Bantu yang dapat digunakan sebagai alat bantu pengolahan bahan perpustakaan, antara lain : 
1. Peraturan Katalogisasi Indonesia edisi 4 (Perpustakaan Nasional 1994). 
2. Daftar Tajuk Subjek untuk Perpustakaan edisi 4 (Perpustakaan Nasional RI, 1994). 
3. Terjemahan Ringkasan Klasifikasi Desimal Dewey dan Indeks Relatif (Perpustakaan Nasional RI, 1994). 

Kegiatan pengolahan pustaka dirinci lebih lanjut sebagai berikut : 
1. Pengatalogan deskriptif 
Kegiatan pengatalogan deskriptif adalah menentukan tajuk entri utama dan tajuk entri tambahan. Kegiatan ini didasarkan pada Peraturan Katalogisasi Indonesia edisi 4 (Perpusatakaan Nasional, 1994) yang bersumber pada peraturan pengkatalogan standar internasional yaitu : “The Anglo American Cataloguing Rules”, (AACR). 

2. Penentuan nomor Klasifikasi 
Penentuan nomor klasifikasi diawali dengan kegiatan analisis subjek bahan pustaka. Hasil analisis subjek tersebut digunakan untuk menentukan nomor klasifikasi bahan pustaka dengan menggunakan sarana bantu antara lain “Dewey Decimal Classification“. 

3. Penentuan tajuk subjek 
Disamping untuk menentukan nomor klasifikasi, hasil analisis subjek bahan pustaka juga digunakan sebagai dasar dalam penentuan tajuk subjek bahan pusataka dengan memanfaatkkan sarana bantu “Daftar Tajuk Subjek untuk Perpustakaan”, edisi 4. (Perpustakaan Nasional,1994). 

4. Pembuatan kartu katalog yang kemudian digandakan sesuai kebutuhan (pengarang, judul, subjek dan jejakan lain) serta shelf list dan dijajarkan pada laci-laci catalog dengan menggunakan system penjajaran yang telah ditentukan. Perpustakaan yang telah menggunakan sarana bantu computer dalam pengolahan bahan pustaka, secara berkala dianjurkan melakukan “backup” data. 

5. Pembuatan kelengkapan fisik bahan pustaka seperti label, kartu buku, lembar tanggal kembali dan kantong buku. 

Pengaturan Koleksi 
1. Pengaturan buku 
Buku diatur menurut urutan subjek dan ditempatkan pada rak buku yang tersedia. Buku yang berukuran lebih tinggi atau lebar (oversize book) ditempatkan terpisah dari buku yang berukuran biasa. Selain itu pengaturan buku disesuaikan dengan kegunaan masing-masing buku tersebut, misalnya buku-buku rujukan tidak disatukan dengan buku-buku bacaan lainnya. 

2. Pengaturan bahan bukan buku 
Bahan pustaka bukan buku misalnya peta, bahan audio visual, disket, CD dan lain-laim ditempatkan di pada tempat khusus sesuai dengan jenis bahan tersebut. 

3. Pengaturan majalah 
Majalah lepas di simpan dalam kotak dan ditempatkan pada rak berdasarkan urutan abjad judul majalah. Majalah yang dianggap penting, setelah lengkap terkumpul dikirimkan ke bagian penjilidan. Penyusunan majalah yang sudah dijilid di dalam rak juga berdasarkan urutan abjad judul majalah atau nomor klasifikasi. 

4. Pengaturan surat kabar 
Surat kabar baru disusun pada alat penjepit surat kabar. Setelah terkumpul lengkap selama satu minggu, surat kabar dikeluarkan dari alat penjepit untuk menunggu pengolahan selanjutnya, misalnya menjadi koleksi guntingan surat kabar atau untuk penyusunan indeks artikel surat kabar. 

Layanan Perpustakaan

Cara Mengelola Perpustakaan Sekolah yang Baik
Layanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan teknis yang pada pelaksanaannya perlu ada perencanaan dalam penyelenggaraannya. Layanan perpustakaan akan berjalan dengan baik apabila akses layanan yang digunakan tepat dan sesuai dengan kebutuhan pemakainya. 

Ada tiga jenis layanan perpustakaan, yakni layanan terbuka (open access) dan layanan tertutup (closed access), serta layanan gabungan keduanya. Ketiga layanan ini ada hubungannya dengan cara bagaimana perpustakaan memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menemukan bahan pustaka yang mereka inginkan. 

1. Layanan terbuka (open access) 
Layanan terbuka memberikan kebebasan kepada pemakai untuk menemukan dan mencari bahan pustaka yang diperlukan. Pemakai diizinkan langsung ke ruang koleksi Perpustakaan, memilih dan mengambil bahan pustaka yang diinginkan. Tujuan akses layanan terbuka adalah memberikan kesempatan kepada pemakai untuk mendapatkan koleksi seluas-luasnya, tidak hanya sekedar membaca-baca di rak, tetapi juga mengetahui berbagai alternatif dari pilihan koleksi yang ada di rak, yang kira-kira dapat mendukung penelitiannya. Akses layanan terbuka biasanya diterapkan untuk layanan di Perpustakaan umum, Perpustakaan sekolah, dan Perpustakaan perguruan tinggi. 
Kelebihan layanan terbuka, antara lain adalah : 
a. Pemakai bebas memilih bahan pustaka di rak; 
b. Pemakai tidak harus menggunakan katalog; 
c. Pemakai dapat mengganti bahan pustaka yang isinya mirip jika bahan pustaka yang dicari tidak ada; 
d. Pemakai dapat membandingkan isi bahan pustaka dengan judul yang dicarinya; 
e. Bahan pustaka lebih bermanfaat dan didayagunakan; 
f. Menghemat tenaga pustakawan. 
Selain kelebihan tersebut, layanan terbuka juga memiliki beberapa kelemahan antara lain adalah : 
a. Pemakai cenderung mengembalikan bahan pustaka seenaknya, sehingga mengacaukan dalam penyusunan bahan pustaka di rak; 
b. Lebih besar kemungkinan kehilangan bahan pustaka; 
c. Perlu pengawasan secara ketat; 
d. Tidak semua pemakai paham benar dalam mencari bahan pustaka di rak apalagi jika koleksinya sudah banyak; 
e. Bahan pustaka lebih cepat rusak; 
f. Terjadi perubahan susunan bahan pustaka di rak, sehingga perlu pembenahan terus menerus. 

Cara Pelaksanaannya Layanan terbuka
a. Pemakai langsung mencari bahan pustaka di rak, atau mengecek terlebih dahulu di katalog; 
b. Bahan pustaka yang sudah ditemukan segera dibawa ke ruang baca; 
c. Setelah selesai dibaca, pemakai mengembalikan bahan pustaka tersebut ke tempat yang sudah ditentukan petugas; 
d. Apabila bahan pustaka akan dipinjam untuk dibawa pulang, maka pemakai harus membawa ke bagian petugas pencatatan peminjaman; 
e. Pemakai dapat memilih lagi bahan pustaka lain ke dalam rak. 

2. Layanan Tertutup (closed access) 
Pada akses layanan ini, koleksi tertutup bagi pemakai, dalam arti pemakai tidak boleh langsung mengambil bahan pustaka di rak, tetapi petugas perpustakaan yang akan mengambil. Dengan menggunakan akses ini petugas akan lebih sibuk karena harus mencari bahan pustaka di rak, terutama pada jam-jam sibuk pada saat banyak pemakai yang memerlukan bahan pustaka. Tujuan akses layanan ini memberikan layanan secara terbatas kepada pemakai tidak dapat mencari bahan pustaka yang dibutuhkannya di rak, tetapi akan dilayani oleh petugas. Oleh karena itu, pemakai harus mencari nomor panggil bahan pustaka melalui katalog yang disediakan. 
Kelebihan menggunakan layanan tertutup adalah sebagai berikut : 
a. Bahan pustaka tersusun rapi di rak, karena hanya petugas yang mengambil. 
b. Kemungkinan kehilangan bahan pustaka sangat kecil 
c. Bahan pustaka tidak cepat rusak 
d. Penempatan kembali bahan pustaka yang telah digunakan ke rak lebih tepat 
e. Pengawasan dapat dilakukan secara longgar 
f. Proses temu kembali lebih efektif 
Adapun kekurangan dengan menggunakan akses layanan tertutup adalah sebagai berikut : 
a. Pemakai tidak bebas dan kurang puas dalam menemukan bahan pustaka 
b. Bahan pustaka yang didapat kadang-kadang tidak sesuai dengan kebutuhan pemakai 
c. Katalog cepat rusak 
d. Tidak semua pemakai paham dalam menggunakan teknik mencari bahan pustaka melalui katalog 
e. Tidak semua koleksi dimanfaatkan dan didaya gunakan oleh pemakai 
f. Perpustakaan lebih sibuk 

Cara pelaksanaannya layanan tertutup
a. Pemakai mencari data koleksi melalui katalog. 
b. Pemakai mencatat judul bahan pustaka dan nomor panggil pada bon permintaan atau peminjaman 
c. Pemakai memberikan bon peminjaman kepada petugas. 
d. Petugas mencari bahan pustaka ke rak, menemukan bahan pustaka, dan menyerahkan kepada pemakai. 
e. Pemakai membawa bahan pustaka ke ruang baca. 
f. Apabila bahan pustaka dapat dipinjam untuk dibawa pulang, pemakai melaporkan kepada pencatat sirkulasi. 

3. Layanan Kombinasi (Gabungan) 
Adakalanya perpustakaan menerapkan kedua sistem di atas (terbuka dan tertutup) secara bersamaan. Untuk koleksi umum misalnya menerapkan sistem terbuka sedangkan untuk koleksi khusus, seperti skripsi, tesis, buku-buku rujukan menerapkan sistem tertutup. 

Sistem Peminjaman 
Cara Mengelola Perpustakaan Sekolah yang Baik
Dalam perkembangannya sistem peminjaman di Perpustakaan mengalami banyak perubahan sesuai dengan kebutuhan, situasi dan kondisi. Ada bebarapa sistem peminjaman yang dapat diterapkan di Perpustakaan. Setiap sistem memiliki kelebihan dan kelemahan. Diantara sistem-sistem tersebut yaitu: 
1. Sistem Ledger 
Sistem ini menggunakan catatan peminjaman melalui pencatatan dalam buku khusus, setiap halaman diperuntukkan satu nama peminjam. Pada setiap halaman tersebut dicatat alamat peminjam, dan dibuat kolom-kolom yang berisi data judul buku yang dipinjam, tanda buku atau nomor panggil, tanggal peminjaman, nama pengarang, edisi, tanggal harus kembali, dan dilengkapi dengan tanda tangan peminjam. Setiap kali peminjam meminjam buku maka biodata buku yang dipinjam beserta tanggal pinjam dan tanggal kembali dicatat dalam buku tersebut, kemudian ditanda tangani oleh peminjam sebagai bukti peminjam. Bila peminjam mengembalikan buku, petugas cukup mengetahui nama peminjam dan mencocokkan data peminjaman dalam buku. Selain menggunakan buku catatan, sistem ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan kartu-kartu, yang dirinci sesuai dengan nama peminjam. Kartu-kartu tersebut disusun secara alfabetis sesuai dengan nama peminjam. Sistem ini lebih tepat bila digunakan di perpustakaan kecil. 

2. Sistem Dummy 
Sistem ini menggunakan karton atau papan kayu yang dibungkus kertas yang ukurannya sama dengan buku, kemudian ditulis lengkap data buku, yaitu nomor panggil, pengarang, judul buku. Pada saat buku dipinjam, maka ditulis nama peminjam, nomor peminjam, dan kapan buku harus kembali. Karton atau papan kayu pengganti buku tersebut diletakkan di rak, ditempat buku yang sedang dipinjam. Sistem lama ini kemudian berkembang menjadi sistem “slip”. 

3. Sistem Slip 
Sistem ini menggunakan slip yang berisi data tentang peminjaman dan data yang berisi catatan buku yang dipinjam. Dicatat data bukunya dalam slip buku, kemudian slip itu disimpan dalam meja peminjaman. Slip ini kemudian dikembangkan menjadi kartu buku yang dimasukkan ke dalam kantong buku. Setiap kali ada peminjaman tinggal nama peminjam dan tanggal harus kembali yang ditulis. 

4. Sistem Kartu Buku 
Sistem ini menggunakan kartu buku dan ditempatkan pada setiap buku dan kartu keanggotaan atau peminjaman, agar buku-buku yang dipinjam oleh pembaca dapat sekaligus terlihat. Sistem ini banyak digunakan di Perpustakaan sekolah. Kartu buku ini dibuat dengan cara pada bagian atas dibuat kolom yang berisi kata PENGARANG dan JUDUL, sedangkan catatan lain pada bagian bawah pengarang dan judul ditulis kolom tanggal peminjaman dan nama peminjam. Bila buku dipinjam, maka kartu dicabut kemudian pada kolom tanggal ditulis tanggal harus kembali, sedangkan pada kolom nama peminjam ditulis nama peminjam. Kartu ini kemudian disusun menurut tanggal kembali, nama menurut nama pengarang. 

5. Sistem Newark 
Sistem ini mulai digunakan pada tahun 1900 oleh Perpustakaan umum New Jersey, Perpustakaan umum di Amerika Serikat kebanyakan menggunakan sistem ini karena dianggap paling mudah, aman, dan efektif. Sistem ini memerlukan beberapa peralatan seperti berikut ini : 
a. Kartu peminjam untuk anggota Perpustakaan yang berisi nama, alamat, nomor pendaftaran, tanggal berakhirnya kartu anggota, tanda tangan anggota, kolom tanggal pinjam, dan tanggal harus kembali. Rincian data-data tersebut ditulis dalam kolom-kolom pada kartu peminjam. 
b. Kartu buku berisi keterangan mengenai buku, termasuk didalamnya nomor panggil, pengarang, judul, nomor induk, dan kolom untuk tanggal harus kembali, serta nama peminjam. 
c. Kantong buku merupakan kantong yang diletakan pada bagian akhir buku, pada kantong ini diketik nama pengarang, judul, serta nomor induk. 
d. Slip tanggal diletakkan di bagian buku pada bagian akhir buku. Setiap tanggal berisi nomor panggil, nomor induk, dan kolom tanggal peminjaman. 

Pada sistem ini peminjam membawa buku yang akan dipinjam beserta kartu anggota ke meja peminjaman. Petugas memberi cap tanggal harus kembali pada kartu peminjam, slip tanggal, dan kartu buku. Peminjam diminta memberi tanda tangan ke kartu buku. Buku dan kartu anggota diserahkan kepada peminjam. Kartu buku kemudian dijajarkan menurut tanggal harus kembali. Dalam proses pengembalian buku, peminjam harus menyertakan kartu anggota. Petugas memeriksa tanggal harus kembali yang tertera pada slip tanggal. Petugas mencoret tanggal kembali yang tertera pada kartu buku dan slip tanggal. Bila pengembalian buku terlambat, peminjam diharuskan membayar denda. Kartu peminjam kemudian dikembalikan kepada anggota, sedangkan kartu buku dimasukkan kembali kedalam kantong buku. Apabila peminjam ingin memperpanjang pinjaman buku tersebut, petugas menggambil kartu buku dari jajaran peminjaman, kemudian membubuhkan stempel batas waktu harus kembali yang baru. Jika batas waktu peminjam melebihi, setiap nomor panggil bukunya harus dicatat dan dicocokkan dengan nomor kartu anggota yang meminjam buku tersebut. Peminjam diberitahu berapa denda yang harus dibayar ke perpustakaan. 

Buku yang dipesan oleh pembaca lain, kartu bukunya berada dimeja peminjam pada kartu buku tersebut diselipkan kertas pemesanan yang diberi nama, alamat dan nomor kartu peminjaman. Kemudian setelah buku dikembalikan dari peminjam pertama buku ditahan dan dibuatkan pemberitahuan kepada pembaca yang memesan. 

6. Sistem Peminjaman Detroit 
Sistem peminjaman ini hampir sama dengan sistem peminjaman Browne, hanya ada beberapa perbedaan misalnya slip batas waktu kembali diganti dengan kartu yang diberi tanggal terlebih dahulu dan dimasukkan kedalam kantong kartu buku, kartu peminjam diganti dengan kartu identifikasi. Peminjam sendiri yang menuliskan nomor anggota peminjam kedalam kartu buku. Sistem ini memerlukan beberapa peralatan, antara lain : jajaran pendaftaran anggota disusun menurut abjad menjadi satu, kartu jati diri peminjam, kartu buku berisi nomor panggil buku, nama pengarang, judul, kartu tanggal kembali untuk menyatakan lamanya peminjaman, kantong kartu buku berisi nomor panggil buku, pengarang, judul, stempel, kotak tempat menyusun kartu buku, slip denda, kertas statistik sirkulasi, dan kartu pos pemberitahuan. 

Peminjam yang ingin meminjam, mengambil buku yang akan dipinjam, menuliskan identitas diri pada kartu buku. Buku dan kartu identitas peminjam diberikan kepada petugas. Buku diberikan kepada peminjam, kartu buku disimpan pada kartu buku. Kartu identifikasi peminjam dikembalikan, atau dimasukkan kedalam kartu buku yang sudah dipisahkan antara buku fiksi dan non fiksi dan disusun menurut abjad. 

Pada saat buku dikembalikan di meja peminjaman, harus dicek terlebih dahulu tanggal kembali, jika melebihi batas waktu peminjaman diperhitungkan dendanya. Ambil kartu buku dari kotak kartu buku yang disusun berdasarkan kartu kembali, kemudian masukkan ke kantong buku. Kartu tanggal kembali diambil dari buku yang dipinjam dan disimpan. 

Sistem ini sangat praktis dan menghemat waktu, baik untuk petugas maupun untuk pemakai. Kartu buku dapat dipakai lebih lama, kepadatan di meja peminjaman dapat dihindari, karena batas tanggal kembali sudah disiapkan. Buku yang dipinjam dapat diketahui siapa peminjamnya dan kapan harus kembali dari kartu buku. Peminjam dapat menggunakan kartu peminjam pada cabang lain, jika Perpustakaan tersebut memiliki banyak cabang. 

7. Sistem Browne 
Sistem ini menggunakan tiket yang berbentuk kantong diberikan kepada setiap anggota perpustakaan. Jumlah tiket yang diberikan tergantung pada kebijakan masing-masing Perpustakaan. Satu tiket adalah untuk satu judul buku. Tiket anggota ini berisi identitas, nomor anggota nama serta alamat. Apabila seseorang akan meminjam bahan pustaka maka menyerahkan tiketnya. Kartu buku yang berisi nomor panggil, nomor induk buku, pengarang, judul, edisi, dan tahun terbit. dimasukkan dalam kantong buku diletakkan pada akhir buku di sebelah dalam kiri bawah. Label atau slip tanggal kembali diletakkan pada akhir buku, biasanya berhadap-hadapan dengan kantong buku. Pada slip tanggal kembali dicantumkan kapan tanggal buku yang dipinjam harus dikembalikan. . Bila peminjam ingin meminjam maka petugas mencabut kartu buku dari kantong kemudian dimasukkan ke tiket pembaca. Tanggal harus kembali ditulis pada slip tanggal. Kantong buku kemudian disusun menurut tanggal kembali. Bila tanggal kembali yang sama terdapat berbagai kantong buku, maka kantong buku disusun menurut nomor panggil. Bila anggota mengembalikan buku yang dipinjamnya, lokasi kartu buku dicari berdasarkan tanggal pada slip tanggal serta rincian identifikasi buku yang lain. Tiket buku kemudian dikembalikan pada anggota pada sedangkan kartu buku dimasukkan kembali ke kantong. 

Pemeliharaan Koleksi 
Pemeliharaan koleksi perpustakaan merupakan kegiatan yang cukup penting, tanpa pemeliharaan, koleksi perpustakaan akan cepat rusak atau bahkan punah. Tujuan pemeliharaan antara lain memperpanjang usia koleksi. 

Kegiatan pemeliharaan koleksi, meliputi : 
a. Reproduksi 
Reproduksi dilakukan terhadap koleksi langka yang hendak dilestarikan. Selain itu reproduksi juga dilakukan atas bahan pustaka yang mudah rusak karena jenis kertasnya, ataupun bentuknya. 
Reproduksi dilakukan dengan cara : 
1) Foto Copy; 
2) Membuat bentuk mikro; 
3) Membuat duplikasi dari bahan pustaka bukan buku dan koleksi yang sering digunakan. 

b. Penjilidan 
Kegiatan ini dilakukan terhadap : 
1) Koleksi yang sampulnya rusak; 
2) Koleksi yang terlalu tipis; 
3) Koleksi yang jilidannya lepas; 
4) Buku yang halaman dalamnya lepas; 
5) Sekumpulan majalah lepas. 
Penjilidan dapat dikejakan oleh perpustakaan sendiri atau oleh pihak lain. Kegiatan penjilidan harus dilakukan dengan mengikuti tata laksana sebagai berikut : 
1) Mengumpulkan koleksi yang akan dijilid; 
2) Memberi tanda pada kartu-kartu kotalog bahan pustaka yang dalam proses penjilidan; 
3) Membuat lembar petunjuk rangkap dua, lembar pertama dimasukkan ke dalam bahan pustaka yang akan dijilid, lembar kedua disimpan sebagai arsip. 

c. Laminasi 
Pelestarian naskah (manuskrip) dan dokumen penting dilakukan dengan cara laminasi, yaitu memberi pelindung plastic agar bahan pustaka tersebut tidak koyak atau hancur. Terhadap bahan pustaka ini dapat dilakukan penyemprotan dengan bahan kimia. 

d. Penyiangan 
Bahan pustaka yang dapat dikeluarkan dari koleksi disebabkan karena : 
1) Isinya sudah tidak sesuai lagi; 
2) Perpustakaan sudah memiliki edisi yang terbaru; 
3) Rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi; 
4) Isinya tidak lengkap lagi; 
5) Jumlahnya terlalu banyak dan jarang digunakan; 
6) Terlarang. 

Cara penyiangan : 
1) Memilih bahan pustaka yang akan dikeluarkan dari koleksi; 
2) Mengeluarakan kartu catalog bahan pustaka yang dikeluarkan dari koleksi bila bahan tersebut merupakan satu-satunya yang dimiliki perpustakaan; 
3) Memberi tanda atau cap pada bahan pustaka yang dikeluarkan dari koleksi, agar diketahui bahwa bahan pustaka tersebut bukan lagi milik perpustakaan; 
4) Mengirimkan bahan pustaka yang masih dapat dimanfaatkan orang lain sebagai hadiah atau bahkan tukar menukar; 
5) Memusnahkan bahan pustaka yang sudah tidak dapat digunakan lagi. 

Sumber : 
Materi Workshop Pengelolaan Perpustakaan Sekolah 
Oleh. Upriyadi
Isi pulsa online 24 jam
loading...
Share this with short URL:
Facebook
Blogger
Pilih Sistem Komentar

1 comment

TIPS BIMBINGAN SKRIPSI TESIS YANG EFEKTIF
http://indonugraha.blogspot.co.id/2016/03/tips-bimbingan-skripsi-tesis-yang.html